Tampilkan postingan dengan label Farmasetika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Farmasetika. Tampilkan semua postingan

Saraf Otonom dan Susunannya (Asetilkolin)

Sistem saraf otonom (SSO) terdiri dari sistem simpatis dan para simpatis. Susunan saraf simpatis disebut juga sebagai syaraf adrenegik karena bila dirangsang ujung sarafnya akan melepaskan adrenalin (na), sedangkan susunan saraf para simpatis disebut sebagai syaraf kolinergik karena bila dirangsang ujung sarafnya akan melepaskan asetilkolin (Ach).

Secara umum dapat dikatakan bahwa system simpatis dan parasimpatis memperlihatkan fungsi ang antagonistic. Bila satu menghambat suatu fungsi, maka yang lain memacu fungsi tersebut. Contohnya adalah midralisis terjadi dibawah pengaruh saraf simpatis, sedangkan miosis dibawah pengaruh parasimpatis.

Oragan tubuh umumnya dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis, dan tonus yang terlihat merupakan hasil perimbangan kedua system tersebut. Inhibisi salah satu system oleh obat maupun akibat denervasi menyebabkan aktivitas organ tersebut didominasi oleh system yang lain. Tidak semua organ terjadi antagonisme ini, kadang-kadang efeknya sama, misal pada air liur. Sekresi liur dirangsang baik oleh saraf simpatis maupun parasimpatis, tetapi secret yang dihasilkan berbeda kualitasnya; pada perangsangan simpatis liur kental sedangkan parasimpatis liur lebih encer.

Sesuai dengan uraian diatas maka penulis akan membahas lebih  lanjut tentang susunan saraf parasimpatis,asetilkolin serta reaksi kerja obat asetilkolin, farmakokinetik, farmakodinamik, Interaksi obat, pengkajian, perencanaan, serta evaluasi dan berbagai hal yang berkaitan dengan asetilkolin.
 
1.1 Obat yang bekerja pada saraf parasimpatis
Sistem saraf parasimpatis adalah bagian saraf otonom yang berpusat dibatang otak dan bagian kelangkang sum-sum belakang yang mempunyai dua reseptor terhadap reseptor muskarinik dan reseptor nikotik.

1.2   Obat-obat yang yang termasuk kelompok obat
  • Asetilkolin (Ach)
  • Fisostigmin (Eseri,Anticholium)
  • Neostigmin (Prostigmin)
  • Piridostigmin (Mestinon)
  • Distigminbromida (ubretid)

1.3 Farmakokinetik
Ester kolin kurang diserap dan didistribusi kedalam SSP dari saluran cerna (kurang aktif per oral),namun kepkaan nya untuk di hidrolisa oleh kolinestrase sangat berbeda.Asetilkolin sangat cepat dihidrolisa sehingga untuk mencapai efek yang memuaskan obat ini harus diberikan melalui infus secara IV dalam dosis besar.efek asetilkolin yang dibelikan dalam bentuk bolus besar IV diperoleh selama 5-20 detik,sedangkan suntikan IM dan SC hanya memberikan efek lokal. Metakolin lebih tahan 3 kali terhadap hidrolisa dan dapat memberikan efek sistemik walaupun diberikan secara SC.

1.4 Farmakodinamik
Aktifasi sistem saraf para simpatis memodifikasi fungsi organ melalui 2 mekanisme utama. Pertama, asetilkolin yang dilepas dari saraf para simpatis dapat mengaktifkan reseptor muskarinik pada organ efektor unuk mengubah fungsinya secara langsung. Kedua, asetilkolin yang dilepas dari saraf para simpatis dapat berinteraksi dengan reseptor muskarinik pada ujung saraf untukmenghambat pelepasan neurotransmiternya. Melalui mekanisme ini, asetilkolin yang dilepas dan kemungkinan, mensirkulasi agonis muskarinik secara tidak langsung mengubah fungsi organ dengan memodulasi efek para simpatis dan sistem saraf simpatis serta kemungkinan juga sistem nonkolinergik, dan adrenergik.

1.5 Efek samping
Dapat menimbulkan banyak keringat, ludah, nause, muntah dan diare, yang merupakan tanda naiknya tonus parasimpatikus.

1.6 Interaksi obat
Pemakain obat tidak dapat diberikan secara per-oral karena obat tersebut dihidrolisis oleh asam lambung, karena cara kerjanya terlalu singkat sehingga segera dihancurkan oleh asetilkolinestrase atau outirilkolinestrase.

PEMBAHASAN


2.1. Definisi
Asetilkolin (Ach), ester kolin dengan asam asetat yang merupakan neurotransmitter diberbagai sinaps dan akhiran saraf, sistem saraf simpatis, parasimpatis dan somatik. Neostigmin merupaka obat antikolinesterase yang bekerja menghambat hidrolisis asetilkolin dengan berkompetisi dengan asetilkolin untuk enzim asetilkolinesterase dalam transmisi kolinergik. Ia meningkatkan efek kolinergik dengan meningkatkan efek transmisi impuls melalui saraf neuromuskular. Obat ini juga mempunyai efek kolinomimetik langsung tehadap otot rangka dan kemungkinan terhadap sel dan neuron ganglion otonom susunan saraf pusat.   

2.2.Pengkajian
2.2.1 Indikasi
Untuk pengobatan simptomatik miastenia gravis. Manfaatnya yang paling besar adalah untuk terapi jangka panjang, dimana tidak terdapat kesulitan untuk menelan obat. Pada krisis miastenia akut, dimana timbul kesulitan untuk bernapas dan menelan, maka harus digunakan bentuk parenteral. Pasien dapat segera diganti obatnya dengan bentuk orl jika suadah dapat menelan.

2.2.2. Kontraindikasi
Dapat mengakibatkan insufisiensi jantung, angina pektoris, asma bronkus dan hipertireosis.

2.2.3. Bentuk sedian obat
Diperoleh sebagai bubuk kering dan dalam ampul berisi 200 mg.
Dosisnya: 10-100 mg melalui IV
 
2.2.4.  Diagnosis
  • Kelas terapi                       : Obat Kardiovaskular
  • Sub kelas terapi                 : Sistem saraf parasimpatis
  • Nama obat dagang             : 
    • Anti cholium,
    • Mistinon
    • Ubretid
  • Nama obat generiknya      : 
    • Fisotigmin
    • Neostigmin bromida
    • Piridostigmi bromida
    • Distigmin bromida.     

2.3. Perencanaan
2.3.1.  Mekanisme Kerja Obat
Asetilkolin bekerja terjadi akibat setelah terikat pada raseptornya, ketelapaan membrane sel terhadap ion natrium, kalium dan kalsium akan dipengaruhi. Pada otot polos, sel ganglion dan pada ujung plat motorik, asetilkolin meninggikan ketelapaan natrium jauh lebih besar daripada untuk kalium, akibatnya terjadi depolarosasi. Sebaliknya pada sel pacu jantung dijantung, ketelapaan kalium yang lebih ditingkatkan dan ini akan menyebabkan terjadinya hiperpolarisasi, dan akibatnya frekuensi jantung turun.

2.3.2. Efek terapi
Jantung                                       : Denyut diperlambat
Arteri koronari                           : Kontriksi
Pembuluh darah perifer             : Vasodilatasi
Tekanan darah                            : Turun
Bronkus                                      : Kontriksi
Kelenjar ludah                            : Sekresi bertambah
Kelenjar lakrimalis                     : Sekresi bertambah
Pupil mata                                  : Kontriksi
S.P.M                                         : Peristaltik bertambah
Kelenjar–kelenjar S.P.M            :  Sekresi bertambah
Kelenjar keringat                        : Ekserasi berkurang
2.3.3.      Efek samping
SSP                                      : Sakit kepala
Mata                                     : menyebabkan miosis
Kardiovaskuler                      : Dapat mengurangi tahanan vascular tepi dan mengubah denyut jantung
Respirasi                               : Dapat menimbulkan efek besar pada pasien    asma
Saluran cerna                        : Meningkatkan sekresi dan aktivitas motor usus
Saluran genitaurinariu            : Banyaknya miksi

2.4.            Pelaksanaan
2.4.1        Cara Pemberian Obat
Obat ini diberikan melalui infus secara IV dalam dosis besar. Efek asetilkolin yang diberikan dalam bentuk bolus besar IV diperoleh selama 5-20 detik, sedangkan suntikan IM dan SC hanya memberikan efek lokal. Metakolin lebih tahan 3 kali terhadap hidrolisa dan dapat memberikan efek sistemik walaupun diberikan secara SC

2.4.2.      Dosis Obat 
Dosis obat yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek optimal berkisar antar 15-375mg sehari.untuk beberapa keadaan dosis, perlu ditingkatkan melebbihi dosis ini, tetapi kemungkinan menimbulnya krisis koliner-gik harus dipertimbangkan. Dosis rata-ratanya adalah 10 tablet (150mg) yang diberikan selama 24 jam. Interval waktu antara pemberian dosis sangat penting. Dosis perlu disesuaikan tiap pasien dan dilakukan perubahan jika perlu.

2.4.3.      Nasib obat (farmakokinetik)
Nasib obat dalam tubuh antara lain:
a.       Absorbsi: diabsorbsi lewat pembuluh darah
b.      Metabolisme bentuk: dimetabolisme oleh pembuluh darah
c.       Ekresi : diekresi oleh urine,keringat,dan air liur

2.4.4.      Interaksi obat
Beberapa antibiotik terutama neomisin, strepsomisin,dan kanamisin, mempunyai efek penghambat non-depolarisasi yang kecil tetapi definitif, sehingga meningkatkan efek penghambat neuromuskular. Antibiotik ini hanya boleh diberikan pada pasien miastenia gravis jika mempunyai indikasi definitif dan harus dilakukan penyesuaian dosis obat antikolenesterasenya. Anestetik lokal dan umum, antiaritmia dan obat lain yang dapat mempengaruhi teransmisi neuromuskular harus diberikan dengan hati-hati pada pasien dengan miastenia gravis, sedangkan dosisnya mungkin perlu ditingkatkan.

2.4.5.      Evaluasi
o  Untuk mencegah terjadinya peningkatan pembuluh darah perifer
o  Untuk mencegah terjadinya penyakit iskemik.

KESIMPULAN
Sistem saraf parasimpatis adalah bagian saraf otonom yang berpusat dibatang otak dan bagian kelangkang sum-sum belakang yang mempunyai dua reseptor terhadap reseptor muskarinik dan reseptor nikotik.
susunan saraf para simpatis disebut sebagai syaraf kolinergik karena bila dirangsang ujung sarafnya akan melepaskan asetilkolin (Ach). Dan Efek asetilkolin ini adalah : Jantung: Denyut diperlambat, Arteri koronari: Kontriksi, Tekanan darah: Turun, Pupil mata: Kontriksi, S.P.M: Peristaltik bertambah.

DAFTAR PUSTAKA

•         Gunawan s, dkk. (2007). Farmakologi Dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Gaya Gon
•         Katzung G, Betram. (1997). Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi 6. Jakarta: EGC 
•         Mustchler E. (1991). Dinamika Obat. Bandung: ITB
•         Purwanto H, dkk. (2008). Data Obat Di Indonesia. Edisi 11. jakarta: PT Muliapurna jaya terbit
•         Syaifuddin B. (1996). Anatomi Fisiologi Untuk Anak Perawat. Jakarta: EGC
•         http://diajengdwi.blogspot.com/2009
•           http://www.scribd.com/2009

Definisi Anti Jamur


Jamur adalah organisme mikroskopis tanaman yang terdiri dari sel, seperti cendawan, dan ragi. Beberapa jenis jamur dapat berkembang pada permukaan tubuh yang bisa menyebabkan infeksi kulit, kuku, mulut atau vagina. Jamur yang paling umum menyebabkan infeksi kulit adalah tinea. For example, tinea pedis ('athletes foot) . Infeksi umum yang ada pada mulut dan vagina disebut seriawan. Hal ini disebabkan oleh Candida. Candida merupakan ragi yang merupakan salah satu jenis jamur. Sejumlah Candida umumnya tinggal di kulit.
Ada beberapa jenis obat-obatan antijamur
a.    Antijamur cream
Digunakan untuk mengobati infeksi jamur pada kulit dan vagina. Antara lain :
ketoconazole, fenticonazole, miconazole, sulconazole, dan tioconazole.
b.    Antijamur peroral
Amphotericin dan nystatin dalam bentuk cairan dan lozenges. Obat-obatan ini tidak terserap melalui usus ke dalam tubuh. Obat tersebut digunakan untuk mengobati infeksi Candida (guam) pada mulut dan tenggorokan.
itraconazole, fluconazole, ketoconazole, dan griseofulvin dalam bentuk tablet yang diserap ke dalam tubuh. Digunakan untuk mengobati berbagai infeksi jamur. Penggunaannya tergantung pada jenis infeksi yang ada. example:
Terbinafine umumnya digunakan untuk mengobati infeksi kuku yang biasanya disebabkan oleh jenis jamur tinea.
Fluconazole umumnya digunakan untuk mengobati jamur Vaginal. Juga dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi jamur pada tubuh
c.    Antijamur injeksi
Amphotericin, flucytosine, itraconazole, voriconazole dan caspofungin adalah obat-obatan anti jamur yang sering digunakan dalam injeksi.
Infeksi jamur dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1.   Infeksi jamur sistemik
     - Amfoterisin B
     - Flusitosin
     - Ketokonazol
     - Itakonazol
     - Fluconazol
     - Kalium Iodida 
2.  Infeksi jamur topikal (dermatofit dan mukokutan)

AMFOTERISIN B
Amfoterisin A dan B merupakan hasil fermentasi streptomyces nodosus.
Mekanisme kerja
Amfoterisin B berikatan kuat dengan sterol yang terdapat pada membran sel jamur sehingga  membran sel bocor dan kehilangan beberapa bahan intrasel dan menyebabkan kerusakan yang tetap pada sel.
Salah satu penyebab efek toksik yang ditimbulkan disebabkan oleh pengikatan kolesterol pada membran sel hewan dan manusia.
Resistensi terhadap amfoterisin B mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan reseptor sterol pada membran sel.

Farmakokinetik
Absorbsi   : sedikit sekali diserap melalui saluran cerna.
Waktu paruh kira-kira 24-48 jam pada dosis awal yang  diikuti oleh eliminasi fase kedua dengan waktu paruh kira-kira 15 hari, sehingga kadar mantapnya akan tercapai setelah beberapa bulan setelah pemberian.
Ekskresi : obat ini melalui ginjal berlangsung lambat sekali, hanya 3 % dari jumlah                                 yang diberikan.
Efek samping
  • Infus :  kulit panas, keringatan, sakit kepala, demam, menggigil, lesu, anoreksia, nyeri otot, flebitis, kejang dan penurunan faal ginjal.
  • 50% penderita yang mendapat dosis awal secara IV akan mengalami demam dan menggigil.
  • Flebitis (-) à menambahkan heparin 1000 unit ke dalam infus.
  • Asidosis tubuler ringan dan hipokalemia sering dijumpai à  pemberian kalium.
  • Efek toksik terhadap ginjal dapat ditekan bila amfoterisin B diberikan bersama flusitosin.

Indikasi
  • Untuk pengobatan infeksi jamur seperti koksidioidomikosis, aspergilosis, kromoblastomikosis dan kandidosis.
  • Amfoterisin B merupakan obat terpilih untuk blastomikosis.
  • Amfoterisin B secara topikal efektif terhadap keratitis mikotik.

Sediaan 
  • Amfoterisin B injeksi tersedia dalam vial yang mengandung 50 mg bubuk

Dosis
  • Pada umumnya dimulai dengan dosis yang kecil (kurang dari 0,25 mg/kgBB) yang dilarutkan dalam dekstrose 5 % dan ditingkatkan bertahap sampai 0,4-0,6 mg/kgBB sebagai dosis pemeliharaan.
  • Secara umum dosis 0,3-0,5 mg/kgBB cukup efektif untuk berbagai infeksi jamur, pemberian dilakukan selama 6 minggu dan bila perlu dapat dilanjutkan sampai 3-4 bulan

Flusitosin
Flucytosine (5-fluorocytosine) adalah primidin sintetis yang telah mengalami fluorinasi

Mekanisme kerja
Flusitosin masuk ke dalam sel jamur dengan bantuan sitosin deaminase dan dalam sitoplasma akan bergabung dengan RNA setelah mengalami deaminasi menjadi 5-Fluorourasil. Sintesis protein sel jamur terganggu akibat penghambatan langsung sintesis DNA oleh metabolit fluorourasil

Farmakokinetik
  • Absorbsi    : diserap dengan cepat dan baik melalui saluran cerna.Pemberian bersama                       makanan memperlambat penyerapan  tapi jumlah yang diserap tidak berkurang. Penyerapan juga diperlambat pada  pemberian bersama suspensi alumunium               hidroksida/magnesium hidroksida dan dengan neomisin.
  • Distribusi   :didistribusikan dengan baik ke seluruh jaringan dengan volume distribusi                mendekati total cairan tubuh.
  • Ekskresi     : 90% flusitosin akan dikeluarkan bersama melalui filtrasi glomerulu dalam bentuk utuh, kadar dalam urin berkisar antara 200-500µg/ml.
  • Kadar puncak dalam darah setelah pemberian per-oral dicapai 1-2 jam. Kadar ini lebih tinggi pada penderita infusiensi ginjal.
  • Masa paruh obat ini dalam serum pada orang normal antara 2,4-4.8 jam dan sedikit memanjang pada bayi prematur tetapi dapat sangat memanjang pada penderita insufisiensi ginjal.

Efek samping
  • Dapat menimbulkan anemia, leukopenia, dan trombositopenia, terutama pada penderita dengan kelainan hematologik, yang sedang mendapat pengobatan radiasi atau obat yang menekan fungsi tulang, dan penderita dengan riwayat pemakaian obat tersebut.
  • Mual,muntah, diare dan enterokolitis yang hebat.
  • Kira-kira 5% penderita mengalami peninggian enzim SGPT dan SGOT, hepatomegali.
  • Terjadi sakit kepala, kebingungan, pusing, mengantuk dan halusinasi.

Indikasi
  • infeksi sistemik, karena selain kurang toksik obat ini dapat diberikan per oral.
  • Penggunaannya sebagai obat tunggal hanya diindikasikan pada kromoblastomikosis

Sediaan dan dosis 
  • Flusitosin tersedia dalam bentuk kapsul 250 dan 500 mg
  • Dosis yang biasanya digunakan ialah 50-150 mg/kgBB sehari yang dibagi dalam 4 dosis.

Ketokonazol.
Mekanisme kerja 
  • Seperti azole jenis yang lain, ketoconazole berinterferensi dengan biosintesis ergosterol, sehingga menyebabkan perubahan sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan membran.
Farmakokinetik
  • Absorbsi          : diserap baik melalui saluran cerna dan  menghasilkan kadar plasma yang cukup untuk menekan aktivitas berbagai jenis  jamur. Penyerapan melalui saluran cerna akan berkurang pada penderita dengan pH lambung yang tinggi,pada pemberian bersama antasid.
  • Distribusi         : ketokonazol setelah diserap belum banyak diketahui.
  • Ekskresi           : Diduga ketokonazol diekskresikan   bersama cairan empedu ke lumen usus  dan hanya sebagian kecil saja yang dikeluarkan bersama urin, semuanya dalam bentuk metabolit yang tidak aktif.
Efek samping 
  • Efek toksik lebih ringan daripada Amfoterisin B.
  • Mual dan muntah merupakan ESO paling sering dijumpai
  • ESO jarang :  sakit kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia, parestesia, gusi berdarah, erupsi kulit, dan trombositopenia.
Indikasi
  • Ketokonazol terutama efektif untuk histoplasmosis paru, tulang, sendi dan jaringan lemak.

Kehamilan dan laktasi
Obat ini sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil karena pada tikus, dosis 80 mg/kgBB/hari menimbulkan cacat pada jari  hewan coba tersebut.


Itrakonazol
Mekanisme kerja 
  • Seperti halnya azole yang lain, itraconazole berinterferensi dengan enzim yang dipengaruhi oleh cytochrome P-450, 14(-demethylase. Interferensi ini menyebabkan akumulasi 14-methylsterol dan menguraikan ergosterol di dalam sel-sel jamur dan kemudian mengganti sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan membran
Farmakokinetik
  • Itrakonazol akan diserap lebih sempurna melalui saluran cerna, bila diberikan bersama dengan makanan. Dosis 100 mg/hari selama 15 hari akan menghasilkan kadar puncak sebesar 0,5 µg/ml.
  • Waktu paruh eliminasi obat ini 36 jam (setelah 15 hari pemakaian).
Sediaan dan dosis
  • Itrakonazol tersedia dalam kapsul 100 mg.
  • Untuk dermatofitosis diberikan dosis 1 x 100mg/hari selama 2-8 minggu
  • Kandidiasis vaginal diobati dengan dosis 1 x 200 mg/hari selama 3 hari.
  • Pitiriasis versikolor memerlukan dosis 1 x 200 mg/hari selama 5 hari.
  • Infeksi berat mungkin memerlukan dosis hingga 400 mg sehari.
Efek samping
  • Kemerahan,
  • pruritus,
  • lesu,
  • pusing,
  • edema,
  • parestesia
  • 10-15% penderita mengeluh mual atau muntah tapi pengobatan tidak perlu dihentikan
Indikasi
  • Itrakonazol memberikan hasil memuaskan untuk indikasi yang sama dengan ketokonazol antara lain terhadap blastomikosis, histoplasmosis, koksidiodimikosis, parakoksidioidomikosis, kandidiasis mulut dan tenggorokan serta tinea versikolor.

Flukonazol
Farmakokinetik
  • Obat ini diserap sempurna melalui saluran cerna tanpa dipengaruhi adanya makanan ataupun keasaman lambung.
  • Kadar puncak 4-8 µg dicapai setelah beberapa kali pemberian 100 mg.
  • Waktu paruh eliminasi 25 jam sedangkan ekskresi melalui ginjal melebihi 90% bersihan ginjal.
Sediaan dan dosis
  • Flukonazol tersedia untuk pemakaian per oral dalam kapsul yang mengandung 50 dan 150mg.
  • Dosis yang disarankan 100-400 mg per hari.
  • Kandisiasis vaginal dapat diobati dengan dosis tunggal 150 mg.
Efek samping
  • Gangguan saluran cerna merupakan ESO paling banyak
  • Reaksi alergi pada kulit, eosinofilia, sindrom stevensJohnson.
Indikasi
  • Flukonazol dapat mencegah relaps meningitis oleh kriptokokus pada penderita AIDS setelah pengobatan dengan Amfoterisin B. Obat ini juga efektif untuk pengobatan kandidiasis mulut dan tenggorokan pada penderita AIDS.

Kalium Iodida
  • Kalium Iodida adalah obat terpilih untuk Cutaneous lymphatic sporotrichosis

Efek samping
  • mual 
  • rinitis
  • salivasi
  • lakrimasi
  • rasa terbakar pada mulut dan tenggorok
  • iritasi pada mata
  • sialodenitis dan akne pustularis pada bagian atas bahu
DOSIS
  • Kalium iodida diberikan dengan dosis 3 kali sehari 1 ml larutan penuh (1g/ml).
  • Dosis ditingkatkan 1 ml sehari sampai maksimal 12-15 ml.
  • Penyembuhan terjadi dalam 6-8 minggu, namun terapi masih dilanjutkan sampai sedikitnya 4 minggu setelah lesi menghilang atau tidak aktif lagi

Anti jamur untuk infeksi topikal
  • Griseofulvin
  • Imidazol dan Triazol
  • Tolnaftat
  • Nistatin

Griseofulvin
  • Griseofulvin adalah antibiotik anti jamur yang dihasilkan oleh sejumlah spesies Penicillium dan pertama kali diperkenalkan adalah berbentuk obat oral yang diperuntukkan bagi pengobatan penyakit dermatophytosis

Mekanisme Kerja
  • Griseofulvin à kelompok obat fungistatis yang mengikat protein-potein mikrotubular dan berperan untuk menghambat mitosis sel jamur.
  • Selain itu, griseofulvin juga inhibitor (penghambat) bagi sintensis asam nukleat.
Farmakokinetik
  • Griseofulvin kurang baik penyerapannya pada saluran cerna bagian atas karena obat ini tidak larut dalam air.Penyerapan lebih mudah bila griseofulvin diberikan bersama makanan berlemak
  • Dosis oral 0.5 hanya akan menghasilkan kadar puncak dalam plasma kira-kira 1 µg/ml setelah 4 jam.
  • Obat ini mengalami metabolisme di hati dan metabolit utamanya adalah 6-metilgriseofulvin.
  • Waktu paruh obat ini kira-kira 24 jam, 50% dari dosis oral yang diberikan dikeluarkan bersama urin dalam bentuk metabolit selama 5 hari.
Efek samping
  • Leukopenia dan granulositopenia à menghilang bila terapi dilanjutkan.
  • Sakit kepala àkeluhan utama pada kira-kira 15% penderita yang biasanya hilang sendiri sekalipun pemakaian obat dilanjutkan.
  • artralgia, neuritis perifer,  demam, pandangan mengabur, insomnia, berkurangnya kecakapan, pusing dan sinkop, pada saluran cerna dapat terjadi rasa kering mulut, mual, muntah, diare dan flatulensi.
  • Pada kulit dapat terjadi urtikaria, reaksi fotosensitivitas, eritema multiform, vesikula dan erupsi menyerupai morbili.
Indikasi
  • Efektif untuk infeksi jamur di kulit, rambut, dan kuku yang disebabkan oleh jamur Microsporum, Tricophyton, dan Epidermophyton.
Sediaan dan dosis
  • Griseofulvin tersedia dalam bentuk tablet berisi 125 dan 500 mg dan suspesi mengandung 125 mg/ml.
  • Pada anak griseofulvin diberikan 10 mg/kgBB/hari
  • Untuk dewasa 500-1000 mg/hari dalam dosis tunggal.
  • Hasil memuaskan akan tercapai bila dosis yang diberikan dibagi empat dan diberikan setiap 6 jam

Kontaindikasi
  • Griseofulvin bersifat kontraindikasi pada pasien penderita penyakit liver karena obat ini menyebabkan kerusakan fungsi hati

IMIDAZOL DAN TRIAZOL
  • Anti jamur golongan imidazol mempunyai spektrum yang luas. Yang termasuk kelompok ini ialah mikonazol, klotrimazol, ekonazol, isokonazol, tiokonazol, dan bifonazol.

MIKONAZOL
  • Mikonazol merupakan turunan imidazol sintetik yang relatif stabil, mempunyai spektrum ani jamur yang lebar baik terhadap jamur sistemik maupun jamur dermatofit.
Mekanisme Kerja 
  • Mikonazol menghambat sintesis ergosterol yang menyebabkan permeabilitas membran sel jamur meningkat
Farmakokinetik
  • Daya absorbsi Miconazole melalui pengobatan oral kurang baik..
  • Miconazole sangat terikat oleh protein di dalam serum. Konsentrasi di dalam CSF tidak begitu banyak, tetapi mampu melakukan penetrasi yang baik ke dalam peritoneal dan cairan persendian.
  • Kurang dari 1% dosis parenteral diekskresi di dalam urin dengan komposisi yang tidak berubah, namun 40% dari total dosis oral dieliminasi melalui kotoran dengan komposisi yang tidak berubah pula.
  • Miconazole dimetabolisme oleh liver dan metabolitnya diekskresi di dalam usus dan urin. Tidak satupun dari metabolit yang dihasilkan bersifat aktif
Indikasi 
  • Diindikasikan untuk dermatofitosis, tinea versikolor, dan kandidiasis mukokutan.
Efek samping 
  • Berupa iritasi dan rasa terbakar dan maserasi memerlukan penghentian terapi.
Sediaan dan dosis
  • Obat ini tersedia dalam bentuk krem 2% dan bedak tabur yang digunakan 2 kali sehari selama 2-4 minggu.
Indikasi
  • Krem 2 % untuk penggunaan intravaginal diberikan sekali sehari pada malam hari untuk mendapatkan retensi selama 7 hari.
  • Gel 2% tersedia pula untuk kandidiasis oral.

Definisi Kloramfenikol


Kloramfenikol diisolasi pertama kali pada tahun 1947 dari Streptomyces venezuelae. Karena ternyata Kloramfenikol mempunyai daya antimikroba yang kuat maka penggunaan Kloramfenikol meluas dengan cepat sampai pada tahun 1950 diketahui bahwa Kloramfenikol dapat menimbulkan anemia aplastik yang fatal.
Kloramfenikol bersepektrum luas ini berkhasiat :
Bacteriostatis terhadap hampir semua kuman Gram positif fan sejumlah kuman Gram negatif, juga Kloramfenikol bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman. Yang dihambat adalah enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan-ikatan peptida pada proses sintesis protein kuman.
Efek toksis Kloramfenikol pada sel mamalia terutama terlihat pada sistem hemopoetik/darah dan diduga berhubungan dengan mekanisme kerja Kloramfenikol.

Penggunaan 
  • Hanya dianjurkan pada beberapa jenis infeksi bila tidak ada kemungkinan lain, yaitu pada infeksi tikus (salmonella thypi), dan meningitis (khusus akibat H.influenza) juga pada infeksi anaerob yang sukar dicapai obat, khususnya abces otak oleh B.fragilis. 
  • Penggunaan topikal
    • Digunakan sebagai salep 3% dan tetes/salep mata 0.25-1% sebagai pilihan kedua, jika fusidat dan tetrasiklin tidak efektif. Lebih baik menggunakan salep mata 1 dd malam hari daripada tetes mata beberapa kali sehari. 
    • Tetes telinga (10%) tidak boleh digunakan lagi, karena propilengglikol sebagai pelarut ternyata ototoksis
Farmakokinetik 
Resorpsinya dari usus cepat dan agak lengkap, dengan BA 75-90%. Difusi ke dalam jaringan, rongga dan cairan tubuh baik sekali, kecuali ke dalam empedu. Waktu paruhnya rata-rata 3 jam. Dalam hati 90% dari zat ini dirombak menjadi glukuronida inaktif. Ekskresinya melalui ginjal, terutama sebagai metabolit inaktif dan lebih kurang 10% secara utuh.

Efek samping
  1. Reaksi hematologik
Terdapat dalam 2 bentuk yaitu; 
·        Reaksi toksik dengan manifestasi depresi sumsum tulang.
Kelainan ini berhubungan dengan dosis, menjadi sembuh dan pulih bila pengobatan dihentikan. Reaksi ini terlihat bila kadar Kloramfenikol dalam serum melampaui 25 mcg/ml.
Depresi tulang ini sangat berbahaya dan dapat berwujud dalam dua bentuk anemia, yakni sebagai :
o       Penghambantan pembentukan sel-sel darah (eritosit, trombosit dan granulosit) yang timbul dalam waktu 5 hari sesudah dimulainya terapi. Gangguan ini tergantung dosis serta lamanya terapi dan bersifat reversibel.
o       Anemia aplastis, yang dapat timbul sesudah beberapa minggu sampai beberapa bulan pada penggunaan oral, parenteral dan okuler, maka tetes mata tidak boleh digunakan lebih dari 10 hari.
·        Bentuk yang kedua bentuknya lebih buruk karena anemia yang terjadi bersifat menetap seperti anemia aplastik dengan pansitopenia. Timbulnya tidak tergantung dari besarnya dosis atau lama pengobatan. Efek samping ini diduga disebabkan oleh adanya kelainan genetik.

2.    Reaksi alergi
Kloramfenikol dapat menimbulkan kemerahan kulit, angioudem, urtikaria dan anafilaksis. Kelainan yang menyerupai reaksi Herxheimer dapat terjadi pada pengobatan demam Tifoid walaupun yang terakhir ini jarang dijumpai.

3.    Reaksi saluran cerna
Bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare dan enterokolitis.

4.    Sindrom gray
Pada bayi baru lahir, terutama bayi prematur yang mendapat dosis tinggi (200 mg/kg BB) dapat timul sindrom Gray, biasanya antara hari ke 2 sampai hari ke 9 masa terapi, rata-rata hari ke 4.
Mula-mula bayi muntah, tidak mau menyusui, pernafasan cepat dan tidak teratur, perutkembung, sianosis dan diare dengan tinja berwarna hijau dan bayi tampak sakit berat.
Pada hari berikutnya tubuh bayi menjadi lemas dan berwarna keabu-abuan; terjadi pula hipotermia (kedinginan).

5.    Reaksi neurologik
Dapat terlihat dalam bentuk depresi, bingung, delirium dan sakit kepala.

Penggunaan klinik 
Banyak perbedaan pendapat mengenai indikasi penggunaan kloramfenikol, tetapi
sebaiknya obat ini hanya digunakan untuk mengobati demam tifoid, salmonelosis lain dan infeksi H. influenzae. Infeksi lain sebaiknya tidak diobati dengan kloramfenikol bila masih ada antimikroba lain yang lebih aman dan efektif.
Kloramfenikol tidak boleh digunakan untuk bayi baru lahir, pasien dengan gangguan hati dan pasien yang hipersensitif terhadapnya.

Sediaan
Terbagi dalam bentuk sediaan :
·       Kapsul 250 mg,
Dengan cara pakai untuk dewasa 50 mg/kg BB atau 1-2 kapsul 4 kali sehari.
}Keempat sediaan di atas dipakai beberapa kali sehari.

 
Untuk infeksi berat dosis dapat ditingkatkan 2 x pada awal terapi sampai didapatkan perbaikan klinis.
·       Salep mata 1 %
·       Obat tetes mata 0,5 %
·       Salep kulit 2 %
·       Obat tetes telinga 1-5 %
·       Kloramfenikol palmitat atau stearat
Biasanya berupa botol berisi 60 ml suspensi (tiap 5 l mengandung Kloramfenikol palmitat atau stearat setara dengan 125 mg kloramfenikol). Dosis ditentukan oleh dokter.
·        Kloramfenikol natrium suksinat
Vial berisi bubuk kloramfenikol natrium suksinat setara dengan 1 g kloramfenikol yang harus dilarutkan dulu dengan 10 ml aquades steril atau dektrose 5 % (mengandung 100 mg/ml).

Resistensi 
Dapat timbul dengan agak lambat tetapi resistensi ekstra kromosomal melalui plasmid juga terjadi antara lain terhadap basil tifus perut.

Kehamilan dan Laktasi 
Penggunaannya tidak dianjurkan, khususnya selama minggu-minggu terakhir dari kehamilan, karena dapat menimbulkan cyanosis dan hypothermia pada neonati, akibat ketidakmampuannya untuk mengkonyugasi dan mengekskresikan obat ini, sehingga sangat meningkatkan kadarnya dalam darah.
Berhubung kemampuannya melintasi plasenta dan mencapai air susu ibu, maka tidak boleh diberikan selama laktasi.

Dosis
o       Pada tifus permulaan 1-2 g (palmitat), lalu 4 dd 500-750 mg pc.
o       Neonati maksimal 25 mg/kg/hari dalam 4 dosis
o       Anak-anak diatas 2 minggu 25-50 mg/kg/hari dalam 2-3 dosis. Pada infeksi parah (meningitis, abces otak) iv 4 dd 500-1500 mg (Na-suksinat)

Tiamfenikol 
Adalah derivat p-metilsulfonil (-SO2CH3) dengan spektrum kerja dan sifat yang mirip kloramfenikol, tetapi kegiatannya agak lebih ringan.
Indikasi
Pada infeksi tifus dan salmonella, juga digunakan pada infeksi saluran kemih dan saluran empedu oleh kuman yang resisten terhadap antibiotik lain.

Sediaan :
o       Kapsul 250 dan 500 mg.
o       Botol berisi pelarut 60 ml dan bubuk Ttiamfenikol 1.5 g yang setelah dilarutkan mengandung 125 mg Tiamfenikol tiap 5 ml.

Dosis
o       Tifus perut 4 dd 250-500 mg selama maksimal 8 hari, di atas 60 tahun 2 dd 500 mg, anak-anak 20-30 mg/kg/hari.
o       Gonore : 1 x 2.5 g